Showing posts with label Kimia. Show all posts
Showing posts with label Kimia. Show all posts

Wednesday, April 16, 2014

PERBANDINGAN POTENSI ZEOLIT DAN ARANG AKTIF

PERBANDINGAN POTENSI ZEOLIT DAN ARANG AKTIF DALAM MENGADSORPSI LOGAM BERAT Cu DAN Zn

Abstrak
      Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu manakah diantara zeolit dan arang aktif yang efektif dalam menjerap logam Cu dan Zn dan untuk mengetahui apakah zeolit dan arang aktif yang tersebar di pasaran bisa menyerap Cu dan Zn.
      Penelitian ini dilakukan pada tanggal 22 Oktober 2012 sampai 9 November 2012. Penelitian ini didesain secara eksperimental, yaitu penelitian yang menggunakan variabel bebas dan terikat. Adapun variabel terikat dalam penelitian ini adalah kadar air sungai yang dicemari logam ZnSO4 dan CuSO4. Sedangkan variabel bebas adalah air sungai yang telah disaring atau filter dengan menggunakan zeolit dan arang aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zeolit dapat mengadsorpsi logam lebih banyak dan efektif dibandingkan dengan arang aktif. Jumlah persentase yang dihasilkan oleh ZnSO4 ketika difilter menggunakan arang adalah sebesar 91.75 %, dan ketika difilter menggunakan zeolit sebesar 91.39 %. Sedangkan jumlah persentase yang dihasilkan oleh CuSO4 ketika menggunakan arang aktif adalah sebesar 76.53 %, dan ketika difilter menggunakan zeolit sebesar 94.82 %.

Kata kunci: Zeolit, Arang aktif, Logam, Cu, Zn, Filtrasi 


Pendahuluan

Akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia mulai sulit mendapatkan air bersih, bertambahnya penduduk meningkat pula kebutuhan akan air bersih. Sangat disayangkan hal ini tidak berbanding terbalik dengan ketersediaan air bersih. Kurangnya air bersih membuat beberapa masyarakat harus rela menggunakan air sungai ataupun membeli air bersih yang dijual sangat mahal.
Banyak penduduk Indonesia yang akhirnya menggunakan air sungai untuk kegiatan sehari-harinya, dan kita tahu bahwa air sungai yang ada sudah tidak bersih lagi. Banyak diantaranya yang mengandung limbah-limbah berbahaya, salah satunya adalah limbah logam berat.
Filtrasi adalah salah satu dari berbagai cara yang dapat digunakan untuk menyaring air hingga bersih. Bahan filtrasi yang sering dipakai dan sudah banyak terbukti dapat mengadsorpsi logam berat adalah zeolit dan arang aktif yang mana seperti kita ketahui zeolit dan arang aktif sudah tersedia dimanapun.
Dalam penelitian kali ini, penulis ingin membandingkan mana diantara zeolit dan arang aktif yang paling efektif untuk menjerap kadar logam yang terkandung dalam air sungai yang sudah dicemari logam Cu dan Zn.

Metode Penelitian

Penelitian yang berjudul “Perbandingan Potensi Zeolit dan Arang Aktif dalam Mengadsorpsi Logam Berat Cu dan Zn” menggunakan metode eksperimental, yaitu penelitian yang mengunakan kelas eksperimen. Adapun variable terikat dalam penelitian ini adalah kadar air sungai yang dicemari logam ZnSO4 dan CuSO4. Sedangkan variable bebas adalah air sungai yang telah disaring atau filter dengan menggunakan zeolit dan arang aktif. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2012 sampai 9 November 2012. Di Laboratorium SMA Lazuardi GIS dan Laboratorium Kimia Analitik IPB.
Alat dan bahan yg digunakan dalam penelitian kali ini adalah :
Alat :
Gunting
Ember
Gelas Piala
Labu Ukur
Neraca digital
Kaca Arloji
Bahan :
Zeolit
Arang Aktif
Air sungai
Pasir
Kerikil
Spons
Botol Aqua
Selang
CuSO4
ZnSO4
Berikut ini akan diuraikan prosedur kerja dari penelitian:
Pembuatan Alat Filtrasi
Gunting bagian bawah Aqua botol
Lubangkan tutup botol
Gunting spons dengan ukuran lebar aqua botol
Masukkan zeolit, kerikil dan pasir secara bergantian
Taruh spons diantara zeolit, kerikil dan pasir
Pembuatan air sungai yang dicemari logam Zn dan Cu dengan konsentrasi 50 ppm
Ambil 2 liter air sungai, dengan 2 (dua) kali pengulangan ke ember
Kedalam masing-masing ember masukkan CuSO4 dan ZnSO4 sehingga  konsentrasinya menjadi 50 ppm

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Setelah dilakukan penelitian pengaruh penyerapan zeolit dan arang aktif terhadap adsorpsi logam Cu dan Zn dengan metode spektrofotometri AAS, maka ditemukan hasil penelitian sebagai berikut:
Tabel 1. Pengukuran konsentrasi CuSO4 dan ZnSO4 menggunakan arang aktif dan zeolit
Bahan
Jika dilihat dari hasil yang didapat terbukti bahwa zeolite dan arang aktif berpotensi mengadsorpsi logam berat Zn dan Cu, dengan hasil persentasenya adalah sebagai berikut : jumlah persentase yang dihasilkan oleh ZnSO4 ketika difilter menggunakan arang adalah sebesar 91.75%, dan ketika difilter menggunakan zeolit sebesar 91.39%. Sedangkan jumlah persentase yang dihasilkan oleh CuSO4 ketika menggunakan arang aktif adalah sebesar 76.53%, dan ketika difilter menggunakan zeolit sebesar 94.82 %. 
Dari hasil bisa disimpulkan bahwa arang aktif dan zeolit berpotensi mengadsorpsi logam berat. Namun jika dilihat dari hasil persentase dan tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa zeolit dapat mengadsorp logam berat lebih baik dibandingkan dengan arang aktif. Jika dilihat dari persentase, persentase yang dihasilkan oleh zeolit lebih besar dibandingkan dengan arang aktif. Sebetulnya ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses adsorbsi, yaitu:
Luas permukaan
Semakin luas permukaan adsorben, semakin banyak asorbat yang diserap, sehingga proses adsorpsi dapat semakin efektif. Semaki kecil ukuran diameter partikel maka semakin luas permukaan adsorben. 
Ukuran partikel
Makin kecil ukuran partikel yang digunakan maka semakin besar kecepatan adsorpsinya. Ukuran diameter dalam bentuk butir adalah lebih dari 0.1 mm, sedangkan ukuran diameter dalam bentuk serbuk adalah 200 mesh. 
Waktu Kontak
Semakin lama waktu kontak dapat memungkinkan proses difusi dan penempelan molekul adsorbat berlangsung lebih baik. KOnsentrasi zat-zat organic akan turun apabila kontaknya cukup dan waktu kontak biasanya sekitar 10-15 menit. 
Distribusi ukuran pori
Distribusi pori akan mempengaruhi distribusi ukuran molekul adsorbat yang masuk kedalam partikel adsorben. Kebanyakan zat pengasorpsi atau adsorben merupakan bahan yang sangat berpori dan adsorpsi berlangsung terutama pada dinding-dinding pori atau letak-letak tertentu didalam partikel tersebut.
Faktor-faktor inilah yang menyebabkan zeolit lebih baik dalam hal mengadsorpsi logam Cu dan Zn dibandingkan dengan arang aktif.
Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah zeolit dapat mengadsorpsi logam Cu dan Zn lebih banyak dan efektif dibandingkan dengan arang aktif, walaupun arang aktif juga dapat mengadsorpsi logam berat. Hal ini zeolit mampu memisahkan berdasarkan perbedaan ukuran, bentuk, dan polaritas dari molekul yang disaring.

Saran

Membuat filter sederhana dengan menggunakan bahan lain yang dapat menyerap logam seperti lempung dan yang lainnya.
Mencari manfaat lain dari zeolite dan arang selain dapat menjerap logam berat.

Daftar Pustaka

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/pemisahan-kimia-dan-analisis/filtrasi-2/
http://pelatihanguru.net/tag/definisi-arang-aktif
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-7578-5105100023-bab1.pdf
http://www.purewatercare.com/karbon_aktif.php
http://wiro-pharmacy.blogspot.com/2011/03/kuliah-spektrometri-serapan-atom-aas.html
http://www.rcchem.co.id/rcchem/course/213
110753637-Makalah-Zeolit.pdf
“Pengolahan limbah cair yang mengandung logam besi, tembaga, dan nikel menggunakan metode flotasi-filtrasi dgn zeolit alam lampung sebagai bahan pengikat” Asep Setiawan, Teknik Kimia 2007/2008
Thamzil dalam Agus, (2007)



Friday, January 17, 2014

BUNGA MAWAR MERAH SEBAGAI BAHAN BAKU SELAI

PEMANFAATAN  BUNGA MAWAR MERAH SEBAGAI BAHAN BAKU SELAI
Larasati Eka Rahma

ABSTRAK
Karya ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui apakah bunga mawar dapat dijadikan selai. Manfaat dari menelitian ini adalah memberikan pengetahuan kepada masyarakat agar bisa memanfaatkan bunga mawar sebagai selai, dapat membuat masyarakat lebih kreatif dalam pengolahan bunga mawar dan juga dapat menambah nilai ekonomis dari bunga mawar.
Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan makalah ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Langkah awal yang dilakukan untuk penelitian ini adalah pemilihan bunga yang baik kualitasnya untuk dijadikan selai kemudian diproses hingga menjadi selai. Kemudian selai diuji cobakan kepada 45 responden. Hasil dari penelitian ini  adalah bunga mawar bisa dijadikan selai yang mengandung mengandung zat-zat yang baik fungsinya bagi tubuh.
Kata Kunci: Bunga mawar, selai


1. PENDAHULUAN
      Bunga mawar merupakan tanaman bunga hias dengan batang berduri, banyak ditanam di taman dan paling banyak dijual di toko bunga sebagai bunga potong ataupun bunga tabur. Bunga ini berharga karena keindahan dan aromanya, serta bermanfaat dan memiliki banyak khasiat. Minyak maupun ekstraknya sudah sejak dulu digunakan dalam produk sabun mandi, parfum, lotion kulit, dan obat-obatan. Mawar bisa ditemukan hampir di semua negara di seluruh dunia, sehingga ia dijuluki sebagai “Ratu Segala Bunga (Queen of Flower)” (Suryowinoto, 1997).
                                Banyak orang yang mengetahui bunga mawar ini dan menjadikannya sebagai tanaman hias di halaman rumah mereka. Tetapi tidak banyak yang mengetahui berapa banyak manfaat dari bunga mawar. Bunga mawar banyak mengandung vitamin C, B, E, K, tannin, geraniol, nerol, sitronelol, asam geranik, terpene, flavonoid, pectin, polifenol, karotenoid, vanillin, stearopten, farnesol, phenyletanol, eugenol, nonilaldehida, dan feniletilalkohol. Di dalam Bunga mawar juga terdapat Antosianin, yang merupakan salah satu zat pewarna alami berwarna kemerah-merahan yang larut dalam air dan tersebar luas di dunia tumbuh-tumbuhan (http://klinikpengobatanalami.wordpress.com). Dari bunga mawar ini akan dibuat produk selai. Sebenarnya produk selai mawar ini di luar negeri sudah ada yang memproduksi. Di Indonesia kemungkinan sudah ada yang memproduksi namun tidak begitu familiar sehingga produk ini sangat jarang bahkan tidak ada di pasaran. Industri pabrik besar pun belum ada yang membuatnya.
Oleh karena itu dalam penelitian ini akan dibuat selai berbahan dasar bunga mawar. Alasan memilih membuat selai berbahan dasar bunga mawar ini adalah agar masyarakat bisa lebih memaksimalkan manfaat zat-zat yang terkandung dalam buga mawar dengan cara yang lebih mudah dan enak.
Modal yang diperlukan untuk membuat produk selai bunga mawar ini tidak terlalu besar serta bahan mentah yang mudah didapat dan terjangkau, sehingga penyediaan salah satu bahan mentah berupa bunga mawar relatif tidak akan mengalami kesulitan (Hapsari, 2011).

2. METODE PENELITIAN

Penelitian ini didesain secara deskriptif kuantitatif. Pertama-tama akan dibuat produk selai berbahan dasar kelopak bunga mawar, kemudian dilakukan penyebaran angket kepada responden untuk mengetahui rasa, warna, aroma, dan tekstur dari selai tersebut. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa siswi kelas X IPA berjumlah 45 responden. Sampel dari penelitian ini adalah mahkota bunga mawar merah.
   Adapun prosedur penelitian yang dilakukan untuk pembuatan selai bunga mawar adalah:
a. Pemilihan Bunga yang Baik Kualitasnya untuk Dijadikan Selai.
      Pada tahap ini, bunga mawar dipilih yang berwarna terang dan aroma khasnya kuat dan tidak dalam kondisi cacat ( dalam kondisi baik )Kemudian dipisahkan kelopaknya dari tangkai dan daunnya. Kelopak bunganya lah yang akan diolah lebih lanjut.

 Tabel 1 : Standar Bahan Baku Bunga Mawar
No
Pertanyaan
Ya
Tidak
1.
Apakah warna selai menarik?
87%
13%
2.
Apakah aroma selai sedap?
76%
24%
3.
Apakah rasa selai enak?
96%
4%
4.
Apakah tekstur selai pas?
78%
22%
     









b.  Pencucian Bunga
            Pencucian bunga, dilakukan menggunakan air mengalir berasal dari PDAM.
c.  Penghalusan Bunga  Mawar
            Kelopak bunga yang sudah dipilih dan dicuci, dihaluskan dengan blender dengan ditambah air matang untuk mempermudah proses pelumatan.
d.  Pemasakan dan Sterilisasi
            Sebelum dicampur dengan gula, hasil blenderan Bunga dimasak terlebih dahulu selama 10 menit pada suhu konstan ± 50 oC. yang penting tidak terlalu panas agar kandungan didalam bunga mawar tidak hilang. Tujuan proses pemasakan ini untuk membunuh mikroba. Selain itu pemasakan hasil blenderan bunga dalam waktu yang lama dan suhu tinggi dapat merusak komponen-komponen yang memberi rasa dan aroma khas pada bunga.
e. Penambahan Gula, Gelatin dan Asam Sitrat
            Penambahan gula dilakukan dengan menambahkan sedikit demi sedikit gula, gelatin dan asam sitrat ke dalam proses pemasakan hasil blenderan bunga
f. Pengemasan
   Setelah pembuatan produk selai mawar selesai baru dilakukan pengemasan produk dan siap untuk dikonsumsi.
Hasil yang didapatkan dari penyebaran angket kepada responden kemudian dihitung dan diubah ke dalam bentuk persentase. Lalu hasil tersebut akan dibahas secara deskriptif dan dapat ditarik kesimpulan dari penelitian yang dilakukan.
3. PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian ini dengan menggunakan angket tertutup dan menguji cobakan selai bunga mawar kepada 45 responden siswa kelas X IPA, maka didapatkan presentase sebagai berikut:
No.
Pertanyaan
Ya
Tidak
1.
Apakah warna selai menarik?
87%
13%
2.
Apakah aroma selai sedap?
76%
24%
3.
Apakah rasa selai enak?
96%
4%
4.
Apakah tekstur selai pas?
78%
22%












Berdasarkan hasil perhitungan presentase angket dapat dilihat bahwa, 87% responden menyatakan bahwa warna selai bunga mawar ini menarik dengan alasan bahwa warna selai merah menarik dan segar seperti warna pada bunga mawar aslinya. Sedangkan 13% responden lainnya beranggapan bahwa selai bunga mawar ini memiliki warna yang tidak menarik dengan alasan warna terlalu merah pada selai mawar terlalu gelap sehingga tidak menarik. Sebanyak 76% responden beranggapan bahwa selai bunga mawar ini memiliki aroma yang sedap dengan alasan saat dicium, selai beraroma manis dan asam segar sehingga menggugah responden untuk memakannya. Namun 24% responden lainnya beranggapan bahwa aroma selai bunga mawar ini tidak sedap dengan alasan bahwa responden kurang menyukai aroma asam yang terdapat pada selai mawar ini. kemudian sebanyak 96% responden beranggapan bahwa selai bunga mawar ini memiliki rasa yang enak dengan alasan bahwa campuran rasa manis dan asam pada selai sudah pas dan membuat selai enak untuk dikonsumsi, dan 4% responden beranggapan bahwa rasa selai bunga mawar ini tidak enak dengan alasan bawa rasa asam pada selainya terlalu asam. Lalu 78% responden beranggapan bahwa tekstur dari selai bunga mawar ini sudah pas dengan alasan bahwa kekentalannya sudah sama dengan selai-selai pada umumnya. Namun 22% responden beranggapan bahwa tekstur dari selai bunga mawar ini tidak pas dengan alasan bahwa teksturnya terlalu padat dan sulit untuk dioles pada roti, jika selai ini ingin dikonsumsi bersama roti atau makanan lain.
Kelebihan dari selai bunga mawar ini adalah produk selai ini masih belum banyak yang memproduksi di pasaran. Produk selai mawar ini juga menjadi salah satu cara baru untuk mengkonsumsi kandungan zat lain di dalam bunga mawar, yaitu vitamin B, E, K, tannin,geraniol, nerol, sitronelol, asam geranik, terpene, flavonoid, pectin, polifenol, karotenoid, vanillin, stearopten, farnesol, phenyletanol, eugenol, nonilaldehida, dan feniletilalkohol. Di dalam Bunga mawar juga terdapat Antosian, yang merupakan salah satu zat pewarna alami berwarna kemerah-merahan yang larut dalam air dan tersebar luas di dunia tumbuh-tumbuhan.

4. KESIMPULAN

Dalam penelitian karya ilmiah ini dapat disimpulkan bahwa bunga mawar  dapat dimanfaatkan untuk dijadikan selai yang mengandung banyak zat yang berguna bagi tubuh. Selai bunga mawar ini juga belum ada dipasaran sehingga selai ini menarik dan dengan rasa yang enak dan warnanya yang menarik sehingga banyak orang-orang yang ingin mencoba selai bunga mawar ini.

5. SARAN

Pada penelitian yang selanjutnya, diharapkan selai bunga mawar ini dapat diproduksi lebih banyak lagi sehingga dapat dipasarkan dan menjadikan bunga mawar sebagai bunga yang berguna juga bagi kesehatan pada tubuh. Dapat dilakukan pengecekkan kadar vitamin C, agar dapat diketahui berapakan kandungan vitamin C yang ada pada bunga mawar yg digunakan sebagai bahan pembuatan selai.

6. DAFTAR PUSTAKA
http://anekaplanta.wordpress.com/2007/12/25/budi-daya-mawar-potong-dalam-rumah-plastik/
http://tanaman.org/budidaya-bunga-mawar_177.htm
Rukmana, Rahmat. 1995. Mawar. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Soekarno dan Nampiah. 1990. Mawar. Jakarta : Penebar Swadaya.


Thursday, January 16, 2014

PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PISANG

PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PISANG SEBAGAI BAHAN DASAR PEMBUATAN PEKTIN DENGAN METODE EKSTRAKSI
Naqiah Azzahra Sajjadyah

Abstrak

Karya ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui apakah kulit pisang dapat menhasilkan pektin yang dapat digunakan sebagai pengental pada produk selai.
            Penelitian ini menggunakan metode experimen, dengan menggunakan kulit pisang yang di ekstraksi dengan menggunakan pelarut asam klorida, lalu filtrat ditambahkan alcohol 96% dengan perbandingan volume 1:1 hingga filtrat mengendap. Lalu dicuci dengan menggunakan alcohol dan dikeringkan di oven pada suhu 50oC. pektin yang kering lalu ditimbang. Hasil pektin yang didapat kemudian digunakan sebagai pengental dalam pembuatan selai nanas, dan hasilnya pektin yang diperoleh dapat digunakan sebagai pengental selai.

Kata kunci: kulit pisang, pektin, metode ekstraksi.



1.      Pendahuluan
Tingginya produksi pisang di Indonesia menyebabkan limbah kulit pisang yang dihasilkan pun sangat banyak, dan akhirnya terbuang sia-sia. Padahal kandungan dalam kulit pisang banyak yang masih dapat digunakan. Kulit pisang mengandung banyak zat yang berguna bagi manusia. Salah satunya adalah pektin. Pektin adalah suatu zat alami yang terdapat pada kulit tumbuhan. Pektin bermanfaat untuk membuat produk selai, jelly, permen, dan lain-lain. Pada dasarnya, pektin berguna dalam mengentalkan dan menstabilkan suatu zat. Dalam bidang kesehatan, pektin juga bermanfaat sebagai obat diare dan dapat menurunkan kadar kolestrol dalam darah
2. Metolodologi Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode eksperimental. Penelitian dilakukan dari bulan Agustus hingga September di SMA Lazuardi GIS.

3. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Dari 150 gram kulit pisang mas yang digunakan didapatkan 0,66 gram pektin yang setelahnya digunakan sebagai pengental dan stabilizer pada pembuatan selai nanas untuk mengetahui apakah pektin yang diperoleh dapat digunakan sebagai pengental dan stabilizer pada selai seperti pektin pada umumnya. Selai yang menggunakan pektin tetap kental dan awet hingga lebih dari 3 minggu, sedangkan selai yang tidak ditambahkan pektin akan mengendap dan basi dalam waktu kurang dari 3 minggu. Hal ini disebabkan pektin bekerja dengan mengikat air sehingga cairan selai dapat mengental dan tidak mudah basi. Pektin tidak mengubah rasa, hanya mengubah bentuk cairan menjadi lebih padat atau kental.

4. Kesimpulan
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kulit pisang dapat dijadikan bahan dasar pembuatan pektin yang dapat digunakan untuk mengentalkan dan menstabilkan selai.
.

5. Saran
Pada penelitian selanjutnya, diharapkan pembuatan pektin dapat divariasikan bahan dasarnya, mengeringkan pektin hingga berbentuk bubuk halus dan menggunakan pelarut yang lebih aman seperti H3PO4 dan H3BO3.

6. Daftar Pustaka
1.       Lehneinger, Albert L. 1982. Priciples of biochemistry. New York: Worth Publishers
2.       Munadjim. 1988. Teknologi Pengolahan Pisang. Jakarta: Gramedia.
3.       Towle, G.A. dan O. Christensen. 1973. Pectin. Di dalam R.L. Whistler (ed.).Industrial
4.       Rouse, A.H. 1977. Pectin : distribution, significance. Di dalam S. Nagy, P.E.Shaw dan M.K.. Veldhuis (eds.). Citruz Science and technology, vol. 1, p.110. AVI Publ. Co., Connecticut.
5.       Smith C, Bryant F. 1968. Ester content and jelly pH influences on the grade of pectins. J Food Sci 33:262–4.
6.       Susanti, Lina. 2006. Perbedaan penggunaan kulit pisang terhadap kualitas nata (skripsi). Semarang: Universitas Negeri Semarang
7.       Purba, Michael. 2006. Buku kimia untuk kimia kelas XII B. Jakarta: Penerbit Erlangga.
8.       http://gajahpesing.kabarku.com/Tulisanku/PemanfaatanBuah-pisang-10727.html (Diakses tanggal 24 September 2013 pukul 19.20 WIB)
9.       http://biokimiaenzim.blogspot.com/2011/10/metode-ekstraksi-dan-evaporasi-dalam.html (Diakses tanggal 24 September 2013 pukul 20.04 WIB)
10.    http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/327152-indonesia-penghasil-pisang-terbesar-7-dunia (Diakses tanggal 3 September 2013 pukul 20.34 WIB)
11.    http://tanamanobat-herbal.blogspot.com/2013/02/kandungan-dan-manfaat-kulit-pisang.html (Diakses tanggal 3 September 2013 pukul 20.34 WIB)
12.    http://www.kamusq.com/2013/05/pektin-adalah-pengertian-dan-definisi.html (Diakses tanggal 3 September pukul 20.34 WIB)
13.    http://sci-toys.com/ingredients/pektin.html (Diakses tanggal 24 September pukul 19.20 WIB)